Senin, 01 Agustus 2011

Mozila firefox Jadi raja di Eropa


Untuk pertama kalinya, Mozilla Firefox menggantikan posisi Internet Explorer (IE) sebagai browser web terpopuler dan paling banyak digunakan di daratan Eropa. Browser serigala api ini merengkuh 38,1 persen pangsa pasar sementara IE sebesar 37,5 persen.

Nasib malang IE belum tuntas. Tak hanya persaingan antara IE dan Firefox yang menarik disimak. Perlahan-lahan Google Chrome menggerus pangsa pasarnya dari sisi lain. Bayangkan saja, saat ini browser buatan Google itu menguasai 14,6 persen dari hanya 5,1 persen di akhir tahun lalu.

"Ini merupakan pertama kalinya Internet Explorer turun tahta di salah satu kawasan utama. Ini terjadi karena Google Chrome berhasil mencuri pangsa pasar IE sementara Firefox terus mempertahankan pangsa pasar yang ada," kata Aodhan Cullen, chief executive web analytics specialist StatCounter, yang dikutip VIVAnews dari Telegraph, Rabu 5 Januari 2011.

"Ini juga perlu dilihat sebagai dampak dari kesepakatan antara European Commission dan Microsoft yang menyetujui jika pengguna di Eropa diberi hak untuk memilih browser yang mereka inginkan sejak Maret tahun lalu," tandasnya.

Seperti diketahui, sejak awal 2010, Microsoft memutuskan untuk menyuguhkan opsi 12 browser Internet di luar IE pada jutaan pelanggannya di Eropa. Langkah ini ditempuh sebagai bagian kesepakatan pada Desember 2009, di mana regulator European Union menerima janji Microsoft untuk memberikan akses lebih besar pada kompetitor.

Jika IE terjungkal di Eropa, browser bawaan Windows itu masih memimpin di Amerika Utara sementara ini. IE menguasai 48,92 persen, cukup jauh di bawahnya Firefox dengan 26,7 persen, disusul Chrome 12,82 persen dan Safari 10,16 persen.

IE9 Diunduh 27 kali Perdetik


Browser terbaru besutan Microsoft, Internet Explorer (IE) 9 versi Final akhirnya dirilis 14 Maret 2011 lalu. Meski ranah browser sudah dihuni oleh banyak pemain seperti Mozilla Firefox, Google Chrome, Opera, Safari, dan beberapa browser kecil lain, nampaknya IE masih diminati.

Hal ini bisa dilihat ketika ketika Microsoft meluncurkan IE9 versi Beta sekitar akhir September tahun lalu. Sambutan pasar cukup baik, di mana perusahaan yang berkantor di Redmond itu mencatat ada sekitar 2 juta kali unduh dalam 48 jam pertama.

Padahal, ketika itu IE9 bisa dibilang belum "matang". Bagaimana jika Microsoft benar-benar menghadirkan versi Final atau versi matangnya? Sesuai ramalan, jumlah unduh IE9 versi Final meledak.

IE9, yang dirilis Senin lalu, telah diunduh 2,35 juta kali dalam 24 jam pertama. Jika dirata-ratakan, ada sekitar 98.000 kali unduh selama satu jam atau 27 kali unduh per detik.

"Kami ingin berterima kasih pada seluruh orang di dunia atas antusiasme mereka dengan mengunduh IE9," kata Ryan Gavin, direktur senior IE, yang dikutip VIVAnews dari Mashable.com, Kamis 17 Maret 2011.

Jika dibandingkan dengan browser lain, pencapaian IE9 ini tidak terlalu mengesankan. Mozilla Firefox masih belum tertandingi untuk soal rekor. Dalam beberapa jam setelah dirilis, Firefox 3.5 mencatat lebih dari 1 juta kali unduh pada tahun 2009. Sebelumnya, Firefox 3.0 diunduh 8 juta kali dalam waktu 24 jam. Rekor IE9 masih jauh di belakang Firefox.

Lantas apa yang ditawarkan Microsoft dengan browser terbarunya? IE versi terbaru mendukung HTML5, yakni tampilan antarmuka yang diperbarui, serta fungsi anti-jejak. Selain itu, ia juga mendukung Direct2D, DirectWrite untuk mempercepat kinerja grafis, dan beberapa fitur tambahan pada CSS3 serta strandarisasi SVG2.

Fitur-fitur baru itu diklaim Microsoft mampu membuat IE9 lebih 'ngebut' dan ringan. Jika penasaran, Anda bisa mengunduhnya melalui www.beautyoftheweb.com.

Sains & Teknologi Browser Masa Depan, Browser Tanpa URL

Google Chrome dan Mozilla Firefox menyediakan fitur yang dapat menghilangkan kotak URL.


Keinginan untuk semakin menyederhanakan tampilan browser kian hari kian menguat. Berbagai fitur tak penting disembunyikan atau kalau perlu dihilangkan, agar browser bisa berselancar semakin ringan.

Bahkan tren ke depan, browser bakal menghilangkan kotak Universal Resource Locator (URL) atau lebih sering disebut kotak alamat, di mana biasanya pengguna mengetikkan alamat sebuah situs web.

Setidaknya Google dan Mozilla yang punya rencana untuk mengenyahkan kotak URL, yang biasanya letaknya memanjang di bawah lokasi tab-tab.

Dalam versi Canary (versi awal yang ditujukan bagi para developer), Chrome 13, Google menyediakan fitur 'Compact Navigation' yang dapat digunakan untuk menyembunyikan kotak URL.

Kotak itu baru terlihat kembali bila pengguna mengklik salah satu tab. Namun, kotak alamat itu akan kembali hilang saat pengguna tidak mengetikkan alamat baru atau mengarahkan pointer tetikusnya ke tempat lain.

Seperti dikutip dari situs ConceivablyTech, Google menganggap penghilangan kotak alamat ini akan membuat para desainer web memiliki ruang yang lebih lapang untuk bereksplorasi.

Chrome Compact Navigation

Sementara, Mozilla juga tengah bereksperimen, dengan menyediakan fitur yang mirip, melalui sebuah add-on untuk Firefox 4 dan Firefox 5. Add-on bernama LessChrome HD itu mampu menyembunyikan seluruh toolbar di bawah tab - termasuk kotak URL - , saat mereka sedang tidak digunakan.

Toolbar itu baru kembali terlihat, saat pengguna menggerakan kursor ke arah salah satu tab, atau saat beralih ke tab lainnya.


Firefox without URL bar

Hilangnya kotak URL pada sebuah browser, bisa dikatakan sebagai salah satu evolusi yang penting di dunia peramban, sejak kemunculan pertama browser Mosaic.

Namun, walau terdengar cukup revolusioner, pada kenyataannya URL memang hanya diperlukan ketika pengguna hendak menuju situs web tertentu. Setelah pengguna berada di situs yang dituju, kotak alamat ini sudah tidak diperlukan lagi.

Yang perlu diperhatikan, ketika pengguna tak melihat alamat URL dari situs yang ia kunjungi, risiko pengguna untuk terpapar bahaya dari laman web berbahaya bisa meningkat. Sebab, pengguna bisa lebih mudah menjadi target phishing (jebakan link berbahaya).

Pengguna Internet Explorer lebih bodoh?


Saat ini browser buatan Microsoft, Internet Explorer, tercatat menjadi browser yang paling banyak digunakan. Menurut data StatCounter, setidaknya 43 persen pengguna internet menggunakan Internet Explorer untuk browsing. Angka ini jauh di atas pengguna browser Mozilla Firefox yang hanya 30 persen, atau pengguna Google Chrome yang hanya 19 persen.

Namun, sebuah hasil survei memperlihatkan pengguna browser Internet Explorer memiliki IQ yang lebih rendah, jika dibandingkan pengguna browser lain. Pengguna Internet Explorer lebih bodoh? Hmm.. Seperti apa survei itu dilakukan?

Survei yang dilakukan konsultan web di Vancouver, AptiQuant, ini mengambil sampel lebih dari 100.000 partisipan untuk ikut tes IQ. Kemudian, partisipan itu dicatat, browser apa yang mereka pilih untuk mengikuti tes IQ tersebut.

Hasilnya, mereka yang menggunakan Internet Explorer ber-IQ di bawah rata-rata. Sedangkan pengguna Chrome, Firefox, dan Safari memiliki IQ di atas rata-rata.

Lebih khusus lagi, pengguna browser Camino (browser modifikasi untuk digunakan di sistem operasi Mac OS X) dan Chrome Frame (modifikasi Internet Explorer dengan Google Chrome yang memungkinkan penggunanya memakai konten HTML5 di Internet Explorer), memiliki nilai IQ yang dinilai "menakjubkan" (exceptionally higher).

Pengguna Internet Explorer tercatat, rata-rata hanya memiliki IQ 80. Sedangkan pengguna browser asal Norwegia, Opera, mencapai rata-rata tertinggi, yaitu 120. Sedangkan nilai tengah (mean) dari data ini adalah 100.

Namun, data statistik ini hanya dinilai perlu diperhatikan, ketimbang dianggap sebuah penelitian ilmiah. Karena partisipan yang menjadi sampel, dapat memilih browser apa yang mereka gunakan (tergantung browser apa yang ada di komputer saat mereka mengerjakan tes IQ itu).
Partisipan mengerjakan tes ini setelah menemukannya secara online, di iklan yang dipasang di sejumlah website. Jadi, obyek browser yang mereka pilih lebih bersifat acak, bukan karena opsi yang disediakan pelaku survei.
Selama ini, Internet Explorer memang dikenal sebagai browser yang otomatis terpasang di komputer yang menggunakan sistem operasi Windows. Sedangkan, browser lain merupakan opsi, yang diunduh oleh pengguna yang menghendakinya.

"Sudah pengetahuan umum kalau Internet Explorer versi 6.0 hingga 8.0 sangat tidak kompatibel dengan standar web modern. Untuk membuat website bekerja optimal di browser itu, pengembang web harus mengeluarkan upaya lebih," tulis laporan dari AptiQuant.

"Sekarang, dengan pola statistik penggunaan browser yang tak kompatibel ini, langkah lebih baik harus diambil untuk mengatasi ketidaknyamanan itu," lanjut laporan AptiQuant. (eh)